
Namanya Tuareg. Mesinnya 660 cc. Produk motor adventure dari Aprilia.
Motor ini tidak lahir untuk sekadar diparkir di kafe. Aprilia Tuareg 660 sejak awal memang disiapkan untuk pergi jauh. Sangat jauh. Ke tempat yang jalannya tidak selalu mulus. Kadang malah hilang.
Harga resminya di Indonesia sudah jelas: Rp662.000.000 On The Road Jakarta. Angka yang membuat orang berhenti sejenak. Menarik napas. Lalu bertanya: apa yang ditawarkan?
Jawabannya bukan sekadar mesin. Tuareg 660 membawa mesin parallel-twin 659 cc. Tenaganya 80 hp. Torsinya 70 Nm. Angka-angka ini bukan untuk pamer. Ini tentang tenaga yang keluar halus, tapi siap dipanggil kapan saja—di aspal panjang atau di jalur tanah berbatu.
Tangki bensinnya 18 liter. Cukup besar. Cukup percaya diri.
Dengan konsumsi rata-rata 20–25 km per liter, jarak tempuhnya bisa mendekati 350 km sekali isi penuh. Ini motor yang tidak suka sering mampir SPBU. Ia ingin pengendaranya terus melaju.
Bobotnya sekitar 204 kilogram dalam kondisi siap jalan. Tidak ringan. Tapi juga tidak berlebihan untuk kelas adventure. Suspensinya Kayaba. Travel 240 mm. Depan-belakang bisa diatur. Ini penting saat medan berubah tanpa permisi.
Aprilia tidak pelit teknologi. Panel TFT 5 inci sudah full color. Ada riding mode. Traction control. Cruise control. ABS dua kanal. Semua bisa diatur sesuai selera dan medan. Mau santai. Mau agresif. Mau tanah. Mau aspal.
Yang sering jadi soal justru tinggi joknya.
860 mm. Ini bukan motor untuk semua orang. Idealnya untuk pengendara dengan tinggi badan sekitar 170 cm ke atas. Di bawah itu, masih bisa—asal berani beradaptasi atau memilih jok rendah. Tuareg tidak meminta tubuh besar. Ia hanya minta keseimbangan.
Keunggulan Tuareg 660 bukan pada satu aspek. Tapi pada keseimbangan. Tenaga ada. Kenyamanan ada. Elektronik lengkap. Jarak tempuh jauh. Dan yang paling terasa: rasa percaya diri saat motor diajak keluar dari zona aman.
Dengan harga Rp662 juta OTR Jakarta, Tuareg 660 jelas bukan pilihan impulsif. Ini motor yang dibeli dengan niat. Dengan rencana. Dengan mimpi perjalanan panjang.
Karena pada akhirnya, Tuareg bukan soal ke mana Anda pergi hari ini.Tapi ke mana Anda ingin sampai—tanpa harus bertanya: jalannya masih ada? (*)