www.tahukahinfo.com

Cluster Kindai Mahatama Jadi Pilihan Hunian Bersubsidi di Banjarmasin

Cluster Kindai Mahatama
Cluster Kindai Mahatama

Di sudut Kota Banjarmasin Selatan, tepatnya di kawasan Tanjung Pagar, ada deretan rumah yang tampak biasa. Ukurannya tidak besar. Halamannya pun sederhana. Tetapi di sanalah harapan banyak orang bertumbuh.

Namanya Cluster Kindai Mahatama.

Ini bukan perumahan mewah. Bukan pula hunian dengan gerbang megah dan jalan lebar berlapis granit. Namun justru di kesederhanaannya, perumahan bersubsidi ini menyimpan makna penting: rumah pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Harga rumahnya sekitar Rp164.500.000. Namun, bagi yang ingin mencicil, ada dua kategori. Khusus untuk karyawan swasta, atau wiraswasta.

Harga Cluster Kindai Mahatama
Harga Cluster Kindai Mahatama
Harga Cluster Kindai Mahatama
Harga Cluster Kindai Mahatama

Ukurannya standar rumah subsidi: tipe 36 di atas lahan 72 meter persegi. Dua kamar tidur, satu kamar mandi. Cukup untuk sebuah keluarga kecil memulai hidup mandiri. Cukup untuk menanam masa depan.

Denah Bangunan Cluster Kindai Mahatama
Denah Bangunan Cluster Kindai Mahatama

Pengembangnya Mahatama Group. Mereka memilih bermain di sektor yang sering dianggap kurang menarik oleh banyak developer: rumah subsidi. Marginnya tipis. Prosesnya panjang. Aturannya ketat. Tapi justru di situlah tantangannya.

Peta Lokasi Cluster Kindai Mahatama
Peta Lokasi Cluster Kindai Mahatama

Data di Sistem Informasi Kumpulan Pengembang (Sikumbang) mencatat, ratusan unit rumah di kawasan ini telah terjual melalui skema subsidi pemerintah. Artinya, ratusan keluarga kini tak lagi mengontrak, tak lagi berpindah-pindah. Mereka punya alamat tetap. Punya halaman meski kecil. Punya rumah sendiri.

Cluster Kindai Mahatama menjadi contoh bahwa persoalan perumahan tidak selalu harus dijawab dengan proyek besar dan jargon megah. Kadang jawabannya sederhana: rumah kecil, harga terjangkau, dan akses kredit yang memungkinkan.

Banjarmasin, dengan tantangan banjir dan keterbatasan lahan, tetap membutuhkan hunian seperti ini. Bukan hanya untuk statistik pembangunan, tapi untuk rasa aman sosial. Untuk martabat.

Karena rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah awal dari banyak hal: pendidikan anak, ketenangan bekerja, dan mimpi yang akhirnya punya tempat pulang.

Dan di Tanjung Pagar, mimpi itu sedang dicicil—bulan demi bulan.